Kapal penangkap industri berlambung tinggi di laut lepas, jauh dari daratan.

Kapal yang Menghilang

Kapal penangkap Korea dapat bekerja berbulan-bulan tanpa pulang ke pelabuhan. Kami mengikuti jejaknya untuk mencari tahu siapa yang mengawasi kegiatan kapal, ke mana ikan dibawa, dan apa yang belum bisa dilihat dari darat

Selama 19 bulan bekerja di Dongwon 632, Tono tidak pernah melihat petugas naik untuk memeriksa kapalnya di tengah laut.

“Pernah diperiksa kapalnya ketika beroperasi di tengah laut?” tanya kami.

“Enggak pernah.”

Tono — nama samaran — pulang pada Februari 2026. Ia bekerja di kapal penangkap tuna berbendera Korea Selatan. Kapal itu menggunakan rawai: tali panjang dengan banyak mata kail untuk menangkap ikan.

Tempat kerjanya berada di Samudra Pasifik, jauh dari pelabuhan. Namun, ikan hasil tangkapan tidak perlu menunggu Tono pulang untuk meninggalkan kapal.

Setiap tiga sampai empat bulan, kata Tono, sebuah kapal pengangkut datang. Ikan dipindahkan ke kapal itu. Dongwon 632 lalu kembali bekerja. Tono mengingat salah satu nama pengangkutnya sebagai “Seyu”.

Kapal pengangkut tersebut memiliki ruang penyimpanan berpendingin. Fungsinya seperti gudang beku terapung. Dengan memindahkan ikan ke sana, kapal penangkap bisa mengosongkan tempat penyimpanan tanpa kembali ke darat.

Ikan pulang. Kapal dan awaknya tetap tinggal.

Ilustrasi kapal penangkap industri dan kapal pengangkut besar berdekatan dengan celah air di antaranya.

Pemindahan muatan antarkapal di laut disebut transhipment. Bagi Tono, kegiatan itu menjadi bagian dari pelayaran yang berlangsung lebih dari setahun.

Ilustrasi kedekatan kapal industri; bentuk kapal penangkap mengacu foto Skymax 101. Pengangkut generik, tidak menunjukkan pemindahan muatan. Ilustrasi: AI, dikurasi penulis.

Menurut Tono, seorang asing dari kapal pengangkut mengawasi pemindahan ikan. Ia tidak menjelaskan jabatan orang tersebut. Ketika ditanya apakah ada pengamat di kapal tempatnya bekerja, ia menjawab tidak ada.

“Belum ada, sih, tapi kemarin di kapal Cina ada, tapi kapal Korea gak ada.”

Tono, mantan ABK Dongwon 632

Tono pernah bekerja di kapal China pada 2017. Di sana, katanya, ada pengamat. Pengalaman itu tidak ia temukan di Dongwon 632.

Bagian pertama liputan ini menceritakan kondisi kerja para anak buah kapal atau ABK. Bagian kedua mengikuti kapalnya. Kami ingin mengetahui kapan jejak kapal terputus, kapal lain apa yang ditemuinya, dan ke mana pengangkut ikan kemudian berlayar.

Untuk itu, kami memakai data Global Fishing Watch, disingkat GFW. Organisasi ini mengolah sinyal kapal menjadi catatan pergerakan di laut. Kami membandingkannya dengan cerita awak, daftar resmi kapal, serta jawaban pemerintah dan perusahaan.

Data itu tidak dapat menunjukkan apa yang terjadi di ruang mesin, di meja makan, atau di kamar awak. Ia juga tidak dengan sendirinya membuktikan pelanggaran. Yang bisa ditunjukkannya adalah pola: kapal mana yang jejaknya sering terputus, di mana ia menangkap, dan siapa yang ditemuinya di tengah laut. Pola semacam itu belum menjadi bukti, melainkan dasar awal untuk memunculkan kecurigaan.

Armada Korea 7 Sep 2021 – 7 Sep 2026 Global Fishing Watch

Armada Korea · 2021–2026

kapal

Lima tahun jejak satu armada

Setiap titik adalah lokasi peristiwa kapal berbendera Korea Selatan yang terekam satelit dalam lima tahun terakhir: encounter — istilah GFW untuk dua kapal yang berdekatan dan bergerak lambat di laut — dan jeda AIS.

Peristiwa bukan kapal: satu kapal dapat menyumbang ratusan titik. Jumlah kapal dihitung dari identitas yang berbeda pada kedua himpunan peristiwa itu.

peristiwa armada

Skor risiko IUU

kapal

Kapal dengan skor risiko IUU tertinggi

IUU fishing adalah singkatan dari illegal, unreported, unregulated — penangkapan ikan yang ilegal, tidak dilaporkan, atau tidak diatur. Kami memberi setiap kapal skor risiko dari tiga bahan: AIS yang mati dengan tanda disengaja, kegiatan di dalam kawasan lindung, dan pertemuan berulang dengan kapal lain di tengah laut. Warna terang: titik peristiwa dari kapal berskor tertinggi.

Skor ini alat baca, bukan tuduhan. Ia menunjukkan kapal mana yang paling layak ditanyakan, bukan kapal mana yang melanggar. Ketiga bahan itu masing-masing punya penjelasan sah.

peristiwa kapal berskor tertinggiarmada lainnya

Telusuri ke-212 kapal itu satu per satu →

Temuan · AIS mati

kali

Satu kapal, 139 kali AIS-nya berhenti memancar

Kapal-kapal berskor tertinggi itu mencatat jeda yang ditandai sebagai dugaan pemadaman sengaja sepanjang lima tahun. Garis putus-putus menunjukkan jejak , kapal dengan jeda semacam itu terbanyak: dari titik AIS mati ke titik ia memancar lagi.

Penanda “disengaja” berasal dari analisis komputer Global Fishing Watch. Ia belum membuktikan seseorang mematikan alat; gangguan penerimaan dan kerusakan perangkat juga perlu diperiksa.

AIS mati → AIS memancar lagi

Klik titik untuk tanggal, lama, dan koordinatnya

Temuan · Pertemuan di tengah laut

pertemuan

Yang paling sering menemui kapal lain jauh dari daratan

Peringkat pertemuan mentah dimenangkan kapal yang berlabuh berbulan-bulan di satu titik dekat pantai — ribuan catatan di koordinat yang sama, dan itu bukan pemindahan muatan di laut lepas. Karena itu kami hanya menghitung pertemuan yang terjadi lebih dari 200 kilometer dari daratan.

Yang muncul di puncak adalah , dan di bawahnya deretan nama sekeluarga: , lalu dengan pertemuan — kapal yang namanya diingat Tono sebagai “Seyu”.

Pertemuan dalam data ini berarti dua kapal berdekatan lebih dari dua jam dan bergerak lambat. Rekaman posisi tidak menunjukkan barang yang berpindah, dan tidak seluruh pertemuan berarti pemindahan ikan.

titik pertemuan jauh dari daratan

Klik titik untuk koordinatnya

Dari armada seluas itu, kami mengikuti beberapa kapal yang jejaknya bisa diuji sampai ke tanggal dan koordinat.

Lima Puluh Kali Jejak Terputus

Kapal dapat mengirimkan nama dan posisinya melalui alat bernama AIS. Alat ini membantu keselamatan pelayaran. Sinyalnya juga dapat diterima satelit dan stasiun di darat, lalu dipakai untuk mengikuti perjalanan kapal.

Tetapi jejak itu tidak selalu lengkap.

Pada 3 September sampai 18 November 2022, rekaman sinyal Sky Max 101 terputus 50 kali. Jeda-jeda itu dimulai pada 49 hari berbeda dalam rentang 77 hari.

Setiap jeda berlangsung sekitar 13 sampai 26 jam. Jika dijumlahkan, ada hampir 878 jam tanpa rekaman sinyal, atau setara hampir 37 hari. Waktu itu tersebar dalam banyak jeda, bukan hilang sekaligus selama 37 hari.

Grafik · Rekaman sinyal Sky Max 101

Tujuh puluh tujuh hari, lima puluh jeda

Ketuk satu hari untuk melihat jam persis ketika sinyal tidak terekam.

Satu baris satu hari, 3 September – 18 November 2022. Batang menunjukkan jam ketika rekaman sinyal AIS terputus, menurut data Global Fishing Watch. Hari tanpa batang berarti tidak ada jeda dalam himpunan ini — bukan berarti kapal pasti terpantau penuh.

Sky Max 101 bekerja di perairan Pasifik Barat Laut. Bersama empat kapal Korea lain, kapal itu beroperasi di perikanan cumi dan saury, sejenis ikan laut. Empat kapal lainnya ialah 102 Kumyang, 301 Samyoung, 517 Sungkyung, dan 803 Tongyoung.

Di sebagian kapal tersebut pernah ditempatkan awak Indonesia. Daftar agen perekrut mencatat 16 penempatan di 517 Sungkyung dan sembilan di 301 Samyoung pada 2021–2022. Daftar itu belum memastikan siapa yang masih berada di kapal ketika sinyal terputus atau kapal bertemu pengangkut pada tahun berikutnya.

GFW menandai jeda sinyal dalam kelompok yang kami periksa sebagai dugaan pemadaman sengaja. Penanda itu berasal dari analisis komputer. Ia belum membuktikan seseorang mematikan alat. Gangguan penerimaan sinyal dan kerusakan perangkat juga perlu diperiksa.

Ilustrasi anjungan kapal generik. Perangkat yang tergambar tidak mengidentifikasi AIS atau VMS dan tidak menunjukkan pemadaman. Ilustrasi: AI, dikurasi penulis.

Kami menanyakan jeda-jeda itu kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan Korea Selatan.

“Selama periode tersebut sinyal posisi VMS kelima kapal diterima secara normal,” tulis kementerian pada 2 September 2026.

VMS adalah sistem lain untuk mengawasi posisi kapal penangkap ikan. Datanya diterima pemerintah dan tidak terbuka bagi masyarakat seperti data AIS yang kami gunakan.

Artinya, menurut kementerian, pemerintah tetap dapat mengikuti kapal-kapal itu. Namun rekaman VMS tersebut belum diberikan kepada tim liputan. Kami belum bisa mencocokkannya dengan waktu ketika AIS tidak terekam.

PAI dan Dongwon Haesarang, yang dalam bahan jawaban disebut sebagai pemilik 301 Samyoung dan 803 Tongyoung, membantah kemungkinan AIS dimatikan.

“Itu tidak mungkin,” jawab mereka. “Sebab pemerintah kami mengoperasikan FMC. Kalau AIS dimatikan, mereka akan langsung menghubungi kami.”

PAI dan Dongwon Haesarang, dalam jawaban tertulis

FMC adalah pusat pemantauan perikanan pemerintah Korea. Catatan peringatan dari pusat itu dapat membantu menjelaskan apa yang terjadi saat sinyal tidak terekam.

Ketika ditanya tentang kapal lain, Dongwon 622, perusahaan Dongwon Fisheries menyatakan akan mengingatkan kapten agar memantau AIS dan melaporkan setiap gangguan.

Sajo Industries, pemilik armada Oryong, menyatakan AIS kapalnya selalu dioperasikan. Menurut perusahaan, jeda sementara bisa terjadi karena kapal singgah di pelabuhan, menjalani kegiatan komersial, atau mengalami masalah mekanis.

Lima kapal Sajo yang kami periksa mencatat 118 jeda dalam arsip lima tahun. Seluruh jeda itu dimulai jauh di laut. Yang terdekat pun berjarak lebih dari 200 kilometer dari pelabuhan.

Jarak jeda dari pelabuhan terdekat

118 jeda pada lima kapal Sajo, 2021–2026seluruhnya jauh di laut

Jeda yang dimulai di dalam radius 200 km dari pelabuhan0

Yang diukur adalah jarak titik awal jeda dari pelabuhan terdekat, bukan seluruh perjalanan selama sinyal tidak terekam. Sumber: Global Fishing Watch, arsip lima tahun.

Namun, lokasi sebelum dan sesudah jeda belum menunjukkan seluruh perjalanan di antaranya. Pada jeda panjang, kapal mungkin sempat menuju pelabuhan. Catatan perjalanan dan perbaikan alat diperlukan untuk menguji penjelasan perusahaan.

Wakil Sajo mengatakan setiap kapal membawa dua sampai tiga unit AIS cadangan.

Kapal rawai industri berlambung panjang di Samudra Selatan, dengan bongkahan es di sekitarnya.

Jauh di selatan, di perairan dingin sekitar Antartika, kapal lain menimbulkan pertanyaan berbeda.

Rekaman rekonstruksi berdasarkan bentuk Green Star pada foto CCAMLR; bukan rekaman kejadian pada tanggal tertentu. Rekonstruksi: AI, dikurasi penulis.

Izin Green Star Berlaku di Mana?

Kapal itu bernama Green Star. Sasarannya adalah toothfish, ikan yang dijual dengan nama Chilean sea bass. Green Star memakai rawai dasar, yaitu rangkaian pancing yang dipasang dekat dasar laut.

Daftar agen perekrut mencatat tiga penempatan awak Indonesia di kapal ini. Namun, kami belum memiliki kesaksian mereka tentang perjalanan yang sedang diperiksa.

Green Star tercantum dalam daftar izin CCAMLR, lembaga antarnegara yang mengatur konservasi kehidupan laut Antartika. Dalam daftar yang kami periksa langsung, izin kapal berlaku dari 1 Desember 2025 sampai 30 November 2026.

Wilayah yang tercantum hanya Subarea 48.6, kawasan perairan yang mencakup daerah sekitar Pulau Bouvet dan ke arah selatannya. Profil kapal di situs yang sama mencantumkan TNS Industries Inc. sebagai pemilik dan operator.

Nomor wilayah itu penting. Izin menangkap di satu wilayah tidak otomatis berlaku di wilayah lain. Namun kapal yang melintas atau berlindung di suatu tempat juga tidak otomatis sedang menangkap ikan.

Peta · Tampak atas Antartika

Petak izin, dan tempat kapal sebenarnya tercatat

Klik titik untuk tanggal, koordinat, dan status izinnya

Tampak atas Antartika, proyeksi azimuthal: lingkaran adalah garis lintang, juring adalah wilayah statistik CCAMLR. Wilayah digambar sebagai kotak bujur–lintang — pendekatan yang cukup untuk menempatkan titik, bukan batas hukum. Wilayah, garis pantai, dan lapisan kapal di kawasan lindung berasal dari arsip Global Fishing Watch bagian pertama liputan ini (2021–2026). Daftar asalnya memuat sebelas nama; satu di antaranya, 805 Oryong, tidak ditampilkan karena seluruh titiknya berada di lintang utara 56–60 derajat, bukan di perairan Antartika. Titik Green Star memakai tarikan 7 September 2026, tarikan yang sama dengan angka pada naskah. Berada di suatu petak belum berarti menangkap ikan di sana.

Data GFW memperlihatkan 15 catatan gerak Green Star yang dinilai menyerupai penangkapan di tiga wilayah lain. Ketiganya tidak tercantum dalam izin tersebut. Sembilan catatan berada di perairan South Georgia, empat di Laut Weddell, dan dua di sekitar Kepulauan Orkney Selatan.

Komputer membaca kegiatan itu dari gerak kapal. Ia tidak melihat mata kail diturunkan atau ikan dinaikkan. Karena itu, kami memeriksa catatan tersebut bersama aturan izin dan penjelasan pemerintah.

Hampir Dua Puluh Jam di Laut Weddell

Pada 8–9 Februari 2026, empat catatan Green Star muncul di Laut Weddell, wilayah bernomor 48.5.

7–8 FEBRUARI 2026 533 km Jarak lurus dari titik 7 Februari ke titik pertama di Weddell.

Langkah 1 · 7–8 Februari

Meninggalkan wilayah izin

Sebelumnya, kapal tercatat berada di wilayah izinnya. Jarak lurus dari lokasi itu ke rangkaian titik di Weddell sekitar 533 kilometer.

Angka itu adalah jarak antarlokasi dalam data, bukan panjang jalur lengkap yang dilalui kapal.

Langkah 2 · 8–9 Februari

Hampir dua puluh jam dalam satu catatan

Salah satu dari empat catatan Weddell berlangsung hampir 20 jam. Catatan itu dimulai pada malam 8 Februari dan berakhir sore keesokan harinya, menurut waktu standar internasional atau UTC.

Untuk bagian perjalanan tersebut, GFW mencatat jarak gerak sekitar 30 kilometer. Jadi, meskipun titik-titik di peta terlihat berdekatan, kapal tidak bisa dianggap diam sehari penuh.

Langkah 3 · 9–11 Februari

Kembali ke wilayah izin

Setelah rangkaian tersebut, kapal kembali tercatat di wilayah izinnya, sekitar 565 kilometer dari titik terakhir di Weddell.

Sumber: Global Fishing Watch, ditarik 7 September 2026. Basemap daratan Antartika disederhanakan.

Kami membandingkannya dengan 124 catatan di wilayah izin Green Star. Nilai tengah durasinya sekitar empat jam 15 menit. Artinya, kira-kira separuh catatan lebih singkat dari itu dan separuh lainnya lebih lama.

Catatan Weddell hampir lima kali lebih panjang dari nilai tengah tersebut. Namun ada empat catatan di wilayah izin yang berlangsung setidaknya sepanjang itu. Durasi panjang saja belum cukup untuk memastikan apa yang dilakukan kapal.

Pertanyaan utamanya tetap: mengapa Green Star pergi ke Weddell, dan apa kegiatannya di sana?

Jawaban awal kementerian belum membahas perjalanan Februari ini. Temuan tersebut menjadi bahan pertanyaan susulan. Catatan posisi yang dipegang pemerintah, buku kegiatan kapal, dan laporan cuaca dapat membantu menjawabnya.

Tujuh Catatan di South Georgia

Pada Mei 2026, pola gerak Green Star kembali menimbulkan pertanyaan. Kali ini lokasinya di perairan South Georgia, wilayah bernomor 48.3.

Tujuh catatan yang dinilai menyerupai penangkapan dimulai pada 3–6 Mei. Catatan terakhir baru berakhir pada 7 Mei. Jika durasi ketujuhnya dijumlahkan, hasilnya hampir 84 jam.

Itu bukan berarti penangkapan selama 84 jam telah terbukti. Angka tersebut menghitung bagian perjalanan yang diberi tanda oleh komputer.

Lokasi kapal juga berubah. Titik pertama dan terakhir dalam rangkaian itu berjarak lurus sekitar 172 kilometer. Seluruh kegiatan tersebut tidak berlangsung di satu titik yang sama.

Kementerian membantah Green Star menangkap ikan di South Georgia. Menurut rekaman VMS yang dirujuk kementerian, kapal sedang berlindung dalam perjalanan pulang pada 3–6 Mei.

Kementerian juga menjelaskan dua perjalanan lain: kapal berlindung dari cuaca buruk pada 27 Desember 2025 dan sedang melintas pada 29 Januari 2026. Pemerintah menyatakan kegiatan berlindung telah dilaporkan kepada Sekretariat CCAMLR.

Tim liputan meminta salinan laporan itu untuk dibandingkan dengan catatan satelit.

Ada satu jejak berikutnya yang sudah dapat ditelusuri. Pada 13 Mei, sekitar lima setengah hari setelah catatan terakhir di South Georgia berakhir, Green Star tercatat masuk kawasan pelabuhan Punta Arenas, Chile. Kunjungan itu berlangsung sampai 23 Mei.

Data tersebut belum menunjukkan apakah ikan dibongkar. Namun tanggalnya memberi petunjuk untuk mencari dokumen kedatangan, pemeriksaan kapal, dan muatan di pelabuhan itu.

Nama Berbeda, Kapal yang Sama

Di Pasifik Barat Laut, kami mengikuti dua pengangkut China yang berulang kali bertemu kapal penangkap Korea: Yong Fa Yun 10 dan Yong Fa Yun 12.

Penelusuran menjadi rumit karena nama kapal bisa berubah.

Ilustrasi pelat lambung kapal dengan sambungan baja dan bidang cat polos tanpa nama.
Ilustrasi konseptual kesinambungan lambung kapal; bidang cat bukan bukti penghapusan nama. Ilustrasi: AI, dikurasi penulis.

Grafik · Satu lambung, dua nama

Nama berganti, nomor IMO tidak

REKAMAN IDENTITAS AIS

YONG FA YUN 10

Nama lama masih dipancarkan lewat AIS sampai catatan yang kami tarik pada September 2026.

Nomor IMO pada kedua nama: 9787716 — nomor pengenal yang tetap melekat pada kapal meskipun namanya berganti.

Sumber: rekaman identitas Global Fishing Watch dan bahan jawaban kementerian. Nama yang berbeda belum membuktikan penyamaran. Tetapi jika hanya mencari berdasarkan nama, orang bisa mengira satu kapal sebagai dua kapal berbeda.

Satu pengangkut terdaftar sebagai Xing Bang 777 sejak 31 Juli 2023. Tetapi sampai catatan yang kami tarik pada September 2026, kapal itu masih mengirimkan nama “YONG FA YUN 10” melalui AIS.

Bagaimana memastikan keduanya kapal yang sama? Kami mencocokkan nomor IMO, nomor pengenal yang tetap melekat pada kapal meskipun namanya berganti. Kedua nama tersebut memakai nomor 9787716.

Pengangkut kedua, Yong Fa Yun 12, memiliki riwayat nama Xing Bang 999 dan sudah menggunakan nama baru itu dalam AIS.

Nama yang berbeda belum membuktikan penyamaran. Tetapi jika hanya mencari berdasarkan nama, orang bisa mengira satu kapal sebagai dua kapal berbeda. Catatan perjalanannya pun dapat terpisah.

Pemilik kapal juga tidak selalu mudah dipastikan. Seamax, ketika ditanya tentang Sky Max 101, menyatakan pertanyaan kami “tidak menyangkut kapal kami”. Siapa yang memiliki atau mengoperasikan kapal pada waktu kejadian masih perlu dicocokkan dengan dokumen.

Nama Dongwon muncul pada beberapa perusahaan. Dongwon Fisheries menjawab pertanyaan teknis tentang Dongwon 622 dan Dongwon 632, tetapi menolak pengaitan produknya dengan StarKist, merek tuna kaleng.

“kami bukan bagian dari Dongwon Group,” tulis perusahaan.

Kesamaan nama perusahaan tidak cukup untuk membuktikan bahwa ikan dari satu kapal masuk ke merek tertentu.

Bertemu di Laut, Apa yang Dipindahkan?

Pada Agustus 2024 sampai September 2025, GFW mencatat 42 pertemuan antara lima kapal penangkap Korea dan kedua pengangkut China tersebut.

Peta · Pasifik Barat Laut

Di mana kelima kapal bertemu pengangkut

Klik titik untuk kapal, pengangkut, tanggal, dan koordinatnya

Bingkai peta, kotak lokasi tangkap, dan koordinat pelabuhan berasal dari proyek visual bagian pertama liputan ini. Titik pertemuan memakai 42 pertemuan yang dibahas bab ini; jumlah jeda AIS dan lama tak terekam memakai arsip armada 7 September 2021–7 September 2026, jendela yang sama dengan peta armada di awal cerita. Sumber: Global Fishing Watch; penempatan awak dari daftar agen perekrut.

Dalam data ini, pertemuan berarti dua kapal berada berdekatan selama lebih dari dua jam dan bergerak lambat. Mereka mungkin memindahkan ikan, perbekalan, atau melakukan kegiatan lain. Rekaman posisi saja tidak menunjukkan barang yang berpindah.

Kementerian Korea memberi tabel berisi 43 pemindahan muatan pada periode yang sama. Menurut pemerintah, seluruh kegiatan itu telah dilaporkan sesuai aturan NPFC, lembaga antarnegara yang mengelola perikanan di Pasifik Utara.

Jumlahnya hampir sama, tetapi rinciannya belum seluruhnya cocok.

Untuk pertemuan 102 Kumyang dengan Xing Bang 999, pemerintah mencatat empat pemindahan, sedangkan GFW merekam dua pertemuan. Pada pasangan 517 Sungkyung dan pengangkut yang sama, pemerintah mencatat empat pemindahan, sementara GFW merekam lima pertemuan.

Dua catatan, jumlah hampir sama, rincian belum cocok

Untuk menjelaskan perbedaan itu, catatan kedua pihak harus dicocokkan satu per satu: tanggal, kapal, lama pertemuan, dan kegiatannya.

102 Kumyang × Xing Bang 999 — catatan pemerintah4 pemindahan

102 Kumyang × Xing Bang 999 — catatan GFW2 pertemuan

517 Sungkyung × Xing Bang 999 — catatan pemerintah4 pemindahan

517 Sungkyung × Xing Bang 999 — catatan GFW5 pertemuan

Perbedaan jumlah belum berarti ada yang tidak dilaporkan. Sumber: tabel jawaban Kementerian Kelautan dan Perikanan Korea Selatan, dibandingkan dengan catatan pertemuan Global Fishing Watch.

Dalam ketentuan yang dihimpun tim liputan, NPFC baru mewajibkan pengamat independen di kapal pengangkut sejak 1 April 2026. Semua 42 pertemuan tadi berlangsung sebelumnya.

Pengamat independen adalah petugas yang dapat mencatat kegiatan tanpa hanya mengandalkan keterangan perusahaan. Belum adanya kewajiban tidak berarti pengamat pasti tidak hadir. Daftar penugasan diperlukan untuk mengetahui siapa yang berada di setiap kapal saat pemindahan berlangsung.

Kami juga menguji dugaan lain: apakah kapal biasanya kehilangan sinyal sebelum bertemu pengangkut?

Hasilnya, hanya satu dari 42 pertemuan yang didahului berakhirnya jeda AIS dalam tiga hari sebelumnya.

Peristiwa itu terjadi pada 26 September 2024. Sky Max 101 bertemu pengangkut yang dikenal sebagai Yong Fa Yun 10. Sebelumnya, rekaman sinyal Sky Max 101 terputus sekitar 30 jam. Rekaman muncul kembali sekitar lima jam sebelum pertemuan dimulai.

Kedua kapal kemudian tercatat berdekatan selama sekitar 16 jam. Data itu menunjukkan pertemuan yang lama, tetapi belum memastikan apakah mereka memindahkan ikan.

Pada 41 pertemuan lainnya, tidak ditemukan jeda yang berakhir dalam tiga hari sebelumnya. Jadi, data ini tidak mendukung anggapan bahwa kapal biasanya menghilang tepat sebelum bertemu pengangkut.

Kapal yang terlihat di peta pun tetap menyisakan pertanyaan. Untuk mengetahui asal ikan, jumlah, dan penerimanya, kami memerlukan laporan pemindahan serta daftar muatan.

Sebelas Kapal dalam Sebelas Hari

Nama “Seyu” yang diingat Tono memiliki padanan dalam catatan GFW: Seiyu, kapal pengangkut Korea.

Pada 7 Desember 2024, Seiyu tercatat bertemu Dongwon 632 selama sekitar 12 jam di Pasifik. Setelah itu, Seiyu tidak langsung pulang ke pelabuhan.

Selama 7–17 Desember, pengangkut tersebut tercatat bertemu sebelas kapal penangkap. Di antaranya kapal-kapal bernama Oryong, Chil Sung, dan Hae Cheon. Pada 3 Januari 2025, Seiyu bertemu kapal China bernama Hu Yu 928.

Seiyu baru tercatat berlabuh di Shidao, China, pada 19 Januari, sekitar enam pekan setelah bertemu Dongwon 632. Empat hari kemudian kapal itu berada di Busan, Korea Selatan.

Rangkaian ini menunjukkan satu pengangkut dapat menemui banyak kapal sebelum mencapai darat. Namun belum terbukti bahwa semua kapal menyerahkan ikan, atau bahwa seluruh ikan disatukan dalam ruang penyimpanan yang sama.

Untuk mengikuti ikan dari kapal Tono sampai ke pembeli, diperlukan dokumen yang menghubungkan setiap pemindahan dengan penerimaan di pelabuhan.

Lima Kunjungan yang Bisa Ditelusuri

Untuk kedua pengangkut China, kami mencocokkan 42 pertemuan tadi dengan kunjungan pelabuhan berikutnya.

Hasilnya mengarah ke lima kunjungan: empat di Busan dan satu di Shidao.

Grafik · Dari pertemuan ke dermaga

Empat puluh dua pertemuan, lima kedatangan

Mulai pertemuan (UTC)Kapal penangkapJeda ke pelabuhan (hari)
Diagram ini menunjukkan urutan pelayaran, bukan bukti pembongkaran ikan. Sumber: Global Fishing Watch.

Beberapa pertemuan mengarah ke kedatangan yang sama. Misalnya, setelah menemui sejumlah kapal di laut, satu pengangkut baru sekali masuk pelabuhan. Karena itu, 42 pertemuan tidak boleh dihitung sebagai 42 perjalanan ke darat.

Lima kunjungan yang bisa ditelusuri

Pengangkut dalam catatan AISPelabuhan dan tanggal kedatanganPertemuan yang ditautkan
Yong Fa Yun 10Busan, 26 Oktober 202413
Yong Fa Yun 12Shidao, 29 November 20247
Yong Fa Yun 12Busan, 13 Juli 20253
Yong Fa Yun 10Busan, 8 September 202512
Yong Fa Yun 12Busan, 29 Oktober 20257
Tabel ini menunjukkan urutan pelayaran, bukan bukti pembongkaran ikan. Tetapi kini tempat dan tanggal pencarian dokumennya lebih jelas.
Ilustrasi armada kapal penangkap industri berlambung tinggi di dermaga dengan gudang dan crane.

Cerita Tono membawa kami ke pertemuan kapal di tengah laut. Rekaman satelit membawa penelusuran sampai ke pelabuhan.

Ilustrasi pelabuhan generik dengan armada industri yang bentuknya mengacu Skymax 101; bukan dokumentasi armada atau pelabuhan tertentu. Ilustrasi: AI, dikurasi penulis.

Di sana, pertanyaannya menjadi lebih dekat: ikan apa yang dibawa pengangkut, dari kapal mana asalnya, dan siapa yang menerimanya?

Ilustrasi sepatu bot kerja kosong di dekat ambang pintu kapal, diterangi lampu kecil.
Ilustrasi ruang kerja generik; barang yang tergambar bukan milik narasumber tertentu. Ilustrasi: AI, dikurasi penulis.

Cara Kami Menelusuri Kapal

Kami membandingkan wawancara awak, jawaban pemerintah dan perusahaan, daftar kapal, serta data GFW. Nama Tono disamarkan. Naskah ini masih memerlukan pemeriksaan akhir kutipan, tanggal pelayaran awak, dan perkembangan jawaban pihak terkait sebelum diterbitkan.

Waktu pemeriksaan. Arsip utama mencakup Mei 2021–Mei 2026. Penarikan tambahan dilakukan pada 7 September 2026. Peta armada pada bagian awal memakai jendela lima tahun yang ditarik ulang pada tanggal itu, 7 September 2021–7 September 2026. Untuk Green Star, kami memeriksa kegiatan yang dimulai sejak 1 Desember 2025 hingga sebelum 7 September 2026. Untuk lima kapal Pasifik, pemeriksaan pertemuan dengan dua pengangkut mencakup Agustus 2024–September 2025. Tanggal peristiwa menggunakan UTC, waktu standar internasional.

Cara membaca peta armada. Titik pada peta adalah peristiwa, bukan kapal: satu kapal dapat menyumbang ratusan titik. Jumlah kapal dihitung dari identitas berbeda yang muncul pada dua himpunan peristiwa — jeda AIS dan encounter — dengan cara yang sama seperti bagian pertama liputan ini. Skor risiko IUU memakai tiga bahan: jeda yang ditandai sebagai dugaan pemadaman sengaja, peristiwa di dalam kawasan lindung, dan frekuensi pertemuan di tengah laut. Skor itu alat baca untuk menentukan kapal mana yang layak ditanyakan, bukan penetapan pelanggaran. IUU adalah singkatan dari illegal, unreported, unregulated. Peringkat pertemuan disaring pada jarak lebih dari 200 kilometer dari daratan, karena peringkat mentahnya dimenangkan kapal yang berlabuh lama di satu titik dekat pantai.

Cara membaca peta Pasifik. Peta pada bab pertemuan memakai bingkai, kotak lokasi tangkap, dan koordinat pelabuhan dari proyek visual bagian pertama liputan ini. Titiknya adalah 42 pertemuan yang dibahas naskah. Angka catatan per kapal ditarik dari arsip armada 7 September 2021–7 September 2026, jendela yang sama dengan peta armada di awal: Sky Max 101 mencatat 65 jeda AIS (1.869 jam, sekitar 78 hari), 102 Kumyang 39 jeda (674 jam), 301 Samyoung 34 jeda (760 jam), 517 Sungkyung 33 jeda (770 jam), dan 803 Tongyoung 30 jeda (924 jam). Seluruhnya ditandai GFW sebagai dugaan pemadaman sengaja. Angka 50 jeda pada bab sebelumnya berbeda karena menghitung jendela yang jauh lebih sempit, 3 September–18 November 2022 saja. Penempatan awak yang ditampilkan berasal dari daftar agen perekrut: sembilan di 301 Samyoung dan 16 di 517 Sungkyung. Tidak adanya catatan penempatan pada tiga kapal lain bukan bukti tidak ada awak Indonesia di atasnya.

Cara membaca angka Green Star. Dari 639 catatan yang dimulai dalam masa pemeriksaan, 500 berada di Atlantik Barat Daya, 124 di wilayah izin 48.6, dan 15 di tiga wilayah CCAMLR lain. GFW juga mengembalikan satu catatan yang dimulai sebelum masa pemeriksaan; catatan itu tidak dimasukkan dalam jumlah 639. Hitungan ini memakai tanggal mulai, bukan jumlah seluruh perjalanan atau hasil tangkapan.

Batas data satelit. Komputer mengenali kegiatan dari pola gerak. Gerak yang menyerupai penangkapan bisa memiliki penjelasan lain. Jeda sinyal tidak otomatis berarti alat dimatikan. Pertemuan tidak otomatis berarti pemindahan ikan. Wawancara dan dokumen kapal tetap diperlukan untuk menguji dugaan tersebut.

Pemeriksaan ulang. Kami mengambil seluruh halaman hasil dari API, yaitu layanan GFW untuk mengunduh data, lalu memeriksa agar catatan yang sama tidak dihitung dua kali. Seluruh 42 pertemuan cocok ketika diperiksa melalui data kapal penangkap maupun pengangkut. Ini pemeriksaan pada satu sumber yang sama, bukan bukti dari dua sumber independen.

Izin dan identitas kapal. Izin Green Star diperiksa pada daftar resmi CCAMLR. Profil yang ditautkan memakai nomor IMO 9125334. Tanggal akhir izin pada halaman itu adalah 30 November 2026. Perubahan penanda izin dalam data GFW pada April belum menjelaskan penyebab perbedaan antarsumber. Nomor wilayah yang dibahas adalah 48.6 untuk wilayah izin, 48.5 untuk Weddell, 48.3 untuk South Georgia, dan 48.2 untuk Orkney Selatan.

Awak dan muatan. Daftar penempatan awak berasal dari tahun-tahun tertentu. Daftar itu tidak memastikan orang yang sama tetap berada di kapal pada kejadian berikutnya. Begitu pula kunjungan pelabuhan tidak membuktikan tempat ikan dibongkar atau pembelinya.

Rincian waktu, koordinat, hitungan, serta berkas sumber tersedia dalam laporan pendalaman GFW dan pemeriksaan izin CCAMLR yang menyertai liputan ini.

Penulis
Aqwam F Hanifan, Abdus Somad
Periset
Aqwam F Hanifan
Desainer UI/UX
Aqwam F Hanifan
Editor
Kholikul Alim

Tentang penulis

Aqwam Fiazmi Hanifan

Aqwam Fiazmi Hanifan

Penulis

Aqwam Fiazmi Hanifan memulai karier jurnalistiknya pada 2011 sebagai reporter, produser, dan koresponden lapangan. Ia berpengalaman meliput krisis dan konflik di berbagai wilayah Asia, Timur Tengah, dan Eropa, serta sejak 2016 mengembangkan pendekatan OSINT dalam liputan investigatif berbasis data, visual, dan verifikasi digital. Karyanya berfokus pada konflik, lingkungan, korupsi, hak asasi manusia, dan akuntabilitas kekuasaan. Selain terlibat dalam liputan, ia juga aktif menjadi pelatih OSINT untuk jurnalis, organisasi masyarakat sipil, kampus, dan lembaga publik di Indonesia maupun Asia Tenggara.

Abdus Somad

Abdus Somad

Penulis

Abdus Somad memulai karir jurnalistiknya sebagai kontributor di berbagai media seperti Suara.com, Gatra, dan Tempo.co pada tahun 2017. Ia bergabung dengan Jaring.id pada tahun 2019. Somad telah menerima berbagai beasiswa dan penghargaan jurnalisme nasional dan regional dengan topik korupsi, lingkungan, hak asasi manusia, kesehatan, kelautan, perdagangan satwa liar, dan sains.